Inews Sampit – Istri Mantan PM Nepal Tewas Saat Rumahnya Dibakar Demonstran Suasana politik Nepal kembali memanas setelah sebuah insiden tragis mengguncang ibu kota. Istri mantan Perdana Menteri Nepal, Pushpa Kamal Dahal alias Prachanda, dilaporkan tewas setelah rumah keluarganya dibakar oleh sekelompok demonstran yang marah pada Senin (9/9) malam.
Peristiwa itu terjadi di kawasan Chitwan, sekitar 150 km dari Kathmandu. Api melalap kediaman keluarga mantan PM tersebut dalam hitungan menit, sementara anggota keluarga yang lain berhasil menyelamatkan diri. Sang istri, yang dikenal dengan nama Sita Dahal, tidak sempat keluar dan meninggal di lokasi kejadian.
Baca Juga :Surabaya ke Sampit selalu menjadi pilihan favorit masyarakat
Demonstrasi yang Berubah Anarkis
Menurut laporan kepolisian setempat, kerusuhan bermula dari aksi demonstrasi besar-besaran yang digelar kelompok oposisi di Chitwan. Massa awalnya menuntut keadilan terkait dugaan penyalahgunaan dana negara pada era kepemimpinan Prachanda.
Namun, aksi yang dimulai dengan orasi berubah anarkis ketika sekelompok massa membakar ban dan melempari rumah politisi yang dianggap dekat dengan mantan PM. Situasi semakin tak terkendali saat sebagian dari mereka menyerbu kediaman keluarga Prachanda.
“Kami sudah berusaha membubarkan massa, tetapi jumlah mereka ribuan. Ketika rumah mulai terbakar, api menyebar terlalu cepat,” ujar Kapolisi Distrik Chitwan, Ram Prasad Sharma, dalam konferensi pers.
Korban Jiwa dan Luka-luka
Selain menewaskan istri mantan PM, kebakaran juga menyebabkan tiga orang terluka, termasuk seorang pengawal pribadi. Beberapa tetangga yang berusaha menolong terjebak asap tebal, namun berhasil diselamatkan tim pemadam kebakaran.
Jenazah Sita Dahal sudah dievakuasi ke rumah sakit setempat untuk dilakukan identifikasi resmi. Keluarga besar Prachanda masih menolak memberikan pernyataan langsung, namun kerabat dekat menyebut mereka “sangat terpukul” oleh tragedi ini.
Reaksi Prachanda: “Ini Serangan pada Demokrasi”
Mantan PM Prachanda, yang kini masih berpengaruh di Partai Komunis Nepal (Maois), mengecam keras aksi brutal tersebut. Ia menyebut penyerangan rumahnya bukan hanya tragedi pribadi, tetapi juga serangan terhadap demokrasi Nepal.
“Istri saya adalah korban dari kebencian politik yang tidak terkendali. Ini bukan hanya kehilangan keluarga saya, tetapi juga kehilangan bagi bangsa,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang disiarkan televisi nasional.
Gelombang Kecaman
Tragedi ini memicu gelombang kecaman luas dari berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Perdana Menteri Nepal saat ini, Sher Bahadur Deuba, menyampaikan belasungkawa sekaligus mengecam keras aksi main hakim sendiri.
“Kekerasan bukan jalan keluar. Pemerintah akan mengusut tuntas kasus ini dan membawa pelaku ke pengadilan,” katanya.
Sementara itu, Kedutaan Besar India di Kathmandu turut menyampaikan simpati, menyebut insiden ini sebagai “pukulan menyedihkan bagi stabilitas kawasan”.
Latar Belakang Ketegangan Politik
Nepal dalam beberapa bulan terakhir memang diguncang instabilitas politik. Perselisihan antarpartai, tuduhan korupsi, hingga ketidakpuasan publik terhadap kondisi ekonomi memperburuk suasana.
Prachanda, yang menjabat PM pada beberapa periode, kerap menjadi sasaran kritik karena kebijakan kontroversial semasa pemerintahannya. Meski tidak lagi menjabat, namanya tetap melekat dalam politik Nepal.
“Kerusuhan ini menunjukkan bagaimana frustrasi publik bisa berubah menjadi kekerasan politik yang membabi buta. Namun menyerang keluarga politisi adalah garis merah,” kata analis politik dari Tribhuvan University, Dr. Ramesh Koirala.
Menanti Langkah Tegas Pemerintah
Pasca tragedi, polisi menetapkan kondisi darurat lokal di Chitwan. Ratusan aparat tambahan dikerahkan untuk mengendalikan massa dan mencegah serangan balasan.
Pemerintah juga berjanji akan menindak tegas siapa pun yang terbukti membakar rumah mantan PM. “Tidak ada alasan untuk kekerasan. Semua harus bertanggung jawab di bawah hukum,” tegas Menteri Dalam Negeri Nepal, Bal Krishna Khand.
Luka Mendalam bagi Nepal
Kematian tragis Sita Dahal menambah daftar panjang korban politik di Nepal. Bagi sebagian masyarakat, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa negara pegunungan itu masih rapuh menghadapi gejolak demokrasi.
“Ini bukan hanya tragedi satu keluarga, tetapi tragedi nasional. Jika pemerintah tidak segera bertindak, kekerasan politik bisa merembet ke mana-mana,” kata aktivis HAM, Meena Gurung.
Kini, publik Nepal menanti dua hal: keadilan bagi keluarga korban dan langkah nyata pemerintah untuk menghentikan spiral kekerasan. Tanpa itu, insiden pembakaran rumah yang menewaskan istri mantan PM bisa menjadi bara yang terus menyulut ketidakstabilan politik di negeri Himalaya tersebut.














